Siapa Sangka Buruh Penjemput Gabah Ini Putranya Sukses S2 Di Perancis

Sidoarjo – Profesi sebagai tukang nguyang atau penjemur gabah di pabrik penggilingan padi bagi kalangan atas berduit mungkin dipandang rendah. Suatu pekerjaan yang identik dengan panas, debu dan kotor.

Apalagi dimata wanita penghobby spa atau terapi pemutihan kulit. Penggilingan padi adalah tempat yang mengerikan bagi mereka. Membuat kulit cepat menghitam alias gosong.

Betapa tidak, karena proses penjemuran gabah butuh panas terik matahari agar gabah yang dijemur lekas kering untuk lalu digiling menjadi butiran beras.

Namun bagi Yauman (51tahun) menjadi tukang penjemur gabah adalah pilihan profesi yang tak bisa ditawar lagi. Mengingat bekal pendidikan yang hanya lulus SD, Yauman sadar bahwa tak ada lagi pekerjaan lain yang cocok selain bergelut di pabrik penggilingan padi.

Tetapi siapa sangka dibalik penampilan lugu dan kucuran keringat saat menjemur gabah, ternyata Yauman memiliki sisi kehidupan lain yang unik. Menakjubkan bahkan.

Ya, putra sulungnya, Achmad Choiruddin berhasil lulus S1, S2. S1 diraih Udin, panggilan akrab Achmad Choiruddin, di ITS Surabaya dengan nilai IPK 3,79 pada jurusan Statistika.

Hebatnya, putra pertama Yauman ini mampu menyelesaikan S2 di Universite d’Aux, Marseille, Perancis jurusan Ilmu Matematika Terapan dengan predikat lulus terbaik mengungguli mahasiswa asal Spanyol dan Korea Selatan.

“Semua itu berasal dari bea siswa. Saya sendiri mana punya biaya untuk kuliah Udin di Perancis. Penghasilan per bulan hasil jemur gabah saja tak menentu. Kadang bisa 1 hingga 2 juta tergantung hasil panenan,” tutur Yauman.

Dirinya menjelaskan, hanya mampu membiayai sekolah Achmad Choiruddin saat SD hingga SMA saja. Selebihnya didapat dari program bea siswa berkat kecerdasan otak putra sulungnya itu.

Achmad Choiruddin saat ini tengah menyelesaikan program doktoral di Universite Josep Frurier, Perancis. “Semua itu bagaikan mukjizat. Saya sendiri tak mengira Udin bisa setinggi itu langkahnya,” ujar Yauman.

Karir dan prestasi study putra sulung Yauman dan Katupah itu tergolong melampaui anak anak lain di desanya. Desa Simoangin angin, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo.

Saat ditanya apa rahasia punya anak cerdas? Yauman menerangkan bahwa sejak kecil selalu mendidik Udin untuk tekun belajar, sholat dan ngaji.

Apakah dirinya merasa bangga dengan prestasi anaknya itu? Yauman hanya menjawab,” Saya tidak bangga memiliki anak seperti Udin. Saya hanya bangga bila anak saya selalu tak lupa dengan ibadahnya,” jawab Yauman lugu.

Meski mempunyai anak hebat, Yauman tetaplah Yauman yang tetap setia dengan profesinya sebagai penjemur gabah di pabrik penggilingan padi desa Simoangin angin, Wonoayu.

Kucuran dan lelehan keringatnya seolah menjadi saksi keberhasilan sang putra mengepakkan sayap dibenua biru. Menundukkan Perancis dengan ilmu. (sigit hans)

Bagikan berita ini
46 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *