PERNIK RAMADHAN : Beda Antara Muslim Tekstualis Dengan Muslim Nusantara Dalam Memaknai Tradisi Megengan

LensaNasional.co.id – Memasuki bulan Ramadhan seperti sekarang ini saya jadi teringat dengan KH Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus. Sosok ulama besar yang begitu saya kagumi lewat karya cerpen, tulisan dan puisinya yang termuat di banyak media cetak.

Dalam satu kesempatan, Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) memgatakan bahwa sekarang ini tengah ngetrend “orang pintar baru”. Menurut beliau, setidaknya ada ciri padanya yakni, setiap berbicara selalu menuntut adanya dalil.

“Sedikit sedikit minta dalilnya mana? Bahkan menuntut adanya perincian dalil misalnya ayat berapa, surat apa dan apakah haditsnya shohih atau dhaif,” tutur Gus Mus.

Menjelang awal Ramadha tiba dulu, ada tradisi dalam masyarakat Jawa yakni Megengan. Satu acara sebagai bentuk syukur dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Namun bagi mereka, si orang pintar baru, pasti akan melontarkan pertanyaan, mana itu dalilnya Megengan?. Mencari dalilnya megengan jelas tidak ada. Mereka (orang pintar baru) berlagak ahli dalil namun tak mampu mengimplementasikannya. Dianggapnya tradisi megengan hanya sebuah fenomena dari kalangan sesat karena tiada dalilnya.

Begitulah perbedaaan paling mencolok antara muslim tekstualis dengan muslim nusantara. Muslim nusantara justru pandai mengemas pesan wahyu Illahi.

Megengan adalah hasil kemasan dari pesan wahyu dalam hadits yang berbunyi, “Man faricha bidu khuuli Ramadlaana. Charromallohu jasaduhuu alan naari,” atau “Barangsiapa yang bersuka ria dalam menyongsong datangnya Ramadhan niscaya Allah haramkan jasadnya dari jilatan api neraka”.

Pesan wahyu agar umat Islam bersuka ria menyongsong datangnya Ramadhan tersebut oleh umat muslim Nusantara dikemas dalam bentuk tradisi megengan.

Berisikan agenda kegiatan rutin yakni, para Bapak atau kaum pria muslim bekerja bakti membersihkan masjid, mushola dan makam desa dengan saling mengucap Marhaban Ya Ramadhan sebagai tanda bersuka cita menyambut Ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh hadist diatas.

Sementara itu, para Ibu atau kaum wanita muslimah menyiapkan aneka kue penganan untuk diantar ke tetangga kiri kanan sambil mengucap sama seperti apa yang dilakukan para Bapak diatas.

Hal itu juga sebagai tanda bersuka ria menyambut Ramadhan. Selain itu, dengan membagikan kue kepada tetangga kiri kanan bukankah itu merupakan shodaqoh yang juga merupakan perintah agama.

Pada titik inilah, menunjukkan betapa kaum tekstualis (orang pintar baru) hanya memahami pesan wahyu sebatas pada teks teksnya saja tanpa berkemampuan untuk mengimplementasikannya dalam hidup sehari hari. Selamat menunaikan ibadah puasa. (Hans-Git)

Bagikan berita ini
9 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *