PERNIK RAMADHAN : Antara Mall Dan Masjid, Sebuah Renungan

LensaNasional.co.id – Masjid dan mall atau pasar adalah du kutub utama dalam kehidupan manusia. Masjid dengan segala kearifannya membawa unsur kebaikan. Sementara pasar/mall dengan segala transaksinya sering membawa unsur sebaliknya, kadang memakai cara yang tidak halal.

Bumi nusantara, Indonesia, pada dasarnya didesain berdasarkan peradaban masjid. Rancangan visioner tersebut bisa dilihat dari tatanan di kota kota yang memusatkan kota disebuah masjid selalu bertetangga dengan alun alun. Lalu disekelilingnya, berjajar kantor kantor pemerintahan dan diluar itu baru pasar sebagai tempat perdagangan.

Namun, desain agung itu kini pelan pelan berubah. Indonesia tengah digiring menuju peradaban pasar. Pusat kota berubah menjadi mall mall besar bukan lagi masjid masjid agung. Sehingga mall menjadi pusat tongkrongan generasi muda.

Padahal alur budaya pasar memiliki siklus pada sisi materi. Segala sesuatu dinilai berdasarkan laku atau tidak. Implikasinya adalah kapitalisme disegala bidang. Bahkan kolonialisme dan imperialisme.

Contoh sederhana adalah kekayaan sumber daya alam kita banyak dinikmati negara lain sebagai pemilik modal semenyara rakyat sebagai pemilik sah kekayaan tersebut justru tidak bisa menikmatinya, bahkan terasing di negeri sendiri. Ketika pasar yang berkuasa, rakyatlah yang terkena dampak buruknya.

Ketika peradaban pasar ditonjolkan, tamu yang dihormati adalah investor, digelar karpet merah panjang. Disambut penuh kehangatan.

Pada saat Pilpres, para analisis selalu melihat bagaimana reaksi pasar. Tiap hari orang melihat bagaimana reaksi pasar, pasar modal dan pasar saham. Sangat kontras jika ada ulama yang berkunjung, seperti hal yang biasa. Tak semewah sambutan terhadap investor.

Pada akhirnya negeri seperti tidak memiliki kehormatan, hanya tunduk pada pasar. Hal inj pula yang menjadi pangkal kerusakan bangsa. Kadang demi keuntungan, menggunakan tipuan timbangan, daging busuk atau barang rusak dan palsu diperdagangkan. Inilah seburuk buruknya peradaban ketika modal menjadi penentu. Rakyat yang menderita. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Kita layak berkaca pada sejarah Indonesia masa silam. Dimana beberapa pemimpin terlahir dari peradaban masjid bukan pasar. Bung Hatta, Agus Salim hingga Jenderal Soedirman semua terlahir dari produk masjid.

Di masjid orang dididik menjadi pemimpin sebagai imam dan menjadi rakyat sebagai makmum. Di masjid setiap orang dididik untuk berbicara di depan sebagai khatib dan dididik untuk mau mendengar sebagai sebagai jamaah. Inilah dasar pendidikan kepemimpinan itu. (Hans)

Bagikan berita ini
14 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *