Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2017 Cukup Meriah Di Surabaya

Surabaya – Tahun ini,Kementerian Sosial (Kemensos) RI, mengajak seluruh pihak untuk memperkokoh Persatuan dan Kesatuanmelalui Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang dipusatkan di Kota Surabaya, tepatnya di lapangan Makodam V/Brawijaya.

Tak hanya dihadiri oleh masyarakat, berlansungnya kegiatan itupun, juga dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Drs, H. Soekarwo, Panglima Kodam (Pangdam)V/Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman, M. A dan Kapolda Jatim, bersama beberapa pejabat terkait di wilayah Jawa Timur lainnya.

Salah satu rangkaian acara dalam peringatan HKSN tersebut adalah penyerahan secara simbolis Kartu PesertaBPJS Ketenagakerjaan kepada 4100 Peserta oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Puan Maharani.

Dari 4100 peserta tersebut seluruhnya adalah pekerja sosial yang terdiri dari 243 Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK), 969 Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan 2888 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang didaftarkan selama 3 bulan oleh perusahaan-perusahaan dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) melalui program Gerakan Nasional Peduli Perlindungan Pekerja Rentan (GN Lingkaran) BPJS Ketenagakerjaan.

“Terima kasih kami ucapkan kepada Bu Menko PMK yang telah berkenan menyerahkan kartu BPJS Ketenagakerjaansecara simbolis tadi, serta kepada perusahaan yang telah berpartisipasi dalam GN Lingkaran semoga dengan penyerahan kartu ini semakin membuktikan hadirnya negara untuk memberikan perlindungan kepada seluruh pekerja di Indonesia melaluiBPJS Ketenagakerjaan termasuk pekerja sosial,” ujar E. Ilyas Lubis, Direktur Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

Dirinya menjelaskan, pada saat itu,Jenderal Besar Panglima Soedirman, yang saat itu menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia, telah berhasil menyatukan seluruh prajurit, hingga seluruh lapisan masyarakat dalam perjuangannya melawan penjajah dengan cara bergerilya.

“Ketika Bung Karno, Bung Hatta ditahan oleh Belanda pada Peristiwa Maguwo maka Bung Karno meminta Syafruddin Prawiranegara untuk mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Hari itu sebetulnya Jenderal Sudirman oleh Bung Karno diminta tetap di kota. Tapi Jenderal Sudirman melihat perkembangan di kota tidak memungkinkan beliau untuk tinggal di kota Jogja. Akhirnya beliau melakukan gerilya,” jelasnya.

Terlihat, kata Kemensos RI ini, dariperistiwa yang terjadi di Maguwo pada saat itu, dirinya menegaskan betapa pentingnya untuk membangun persatuan dan kesatuan, sekaligus mewujudkan kegotong-royongan di masyarakat dalam menjaga keutuhan NKRI.

“Reintegrasi sosial itu perlu, karena nilai-nilai yang mulai mengalami pemudaran, hubungan komunikasi yangkurang, pertemuan face to face yang mulai tergantikan gadget. Sebenarnya gadget itu bisa mengkomunikasikan hal-hal tertentu, tapi tidak bisa menggantikan hati atau rasa solidaritas,” kata Menteri Sosial RI ini.

Untuk itu, pihaknya mengajak dari Kementerian Sosial untuk bersama-sama turun ke lapangan, melakukan gotong royong, membangun persatuan meneguhkan persatuan NKRI dengan memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat, seperti melaksanakan baksos, donor darah, pengobatan gratisdan lainnya.(TH)

Bagikan berita ini
440 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *