Pakde Karwo Mendorong Masyarakat Jawa Timur Untuk Gemar Makan Ikan

Surabaya – Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur menggelarJatim Fish And Marine Exhibition(JFME) 2018. Kegiatan ini akan diikuti seluruh pelaku usaha yang bergerakdi bidang perikanan dan kelautan.

Menanda pembukaan pameran ini, dilakukan pemukulan gong sebanyak tiga kali oleh Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jawa timur yang dilanjutkan dengan berkeliling stan pameran dan menyempatkan diri foto bersama dan menyapa para pengunjung di Parkiran Timur Plaza Surabaya,Jumat (4/5).Malam.

Kadis Kelautan dan Perikanan jatim, Heru Cahyono menyatakan, pameran kali ini bertujuan sebagai ajang promosi produk kelautan dan perikanan  yang dilakukan oleh industri dan usaha.

“Ini untuk  membuka akses pasar lokal maupun internasional yang masih terbuka lebar. Kami berusaha meningkatkan konsumsi masyarakat untuk makan ikan dan diversifikasi produk,” kata Heru Cahyono.

Dalam pameran kali ini, dimeriahkan oleh 40 stan yang memamerkan produk hasil perikanan dan kelautan. Juga pameran ikan hias dan demo hasil perikanan. Ini untuk meningkatkan potensi perikanan dan kelautan yang masih belum optimal hingga saat ini.

Sementara itu, Gubenur Jatim DR H Soekarwo SH mengatakan , Ketua Forikan yang mendorong masyarakat yang  belum suka makan ikan, agar mencoba makan ikan.

Mengonsumsi ikan merupaan maju selangkah untuk  kehidupan. Ini sejalan perkembangan hasil ikan tangkapan mencapai  427 ribu ton. Nelayan menangkap ikan di sebelah utara Laut Jawa. Kini, mereka harus pindah ke Pantai Selatan.

“Ada ikan tuna kuning di sana yang harganya mahal. Terbesar ikan itu di Tamperan Pacitan,” ucapnya.

Sedangkan hasil ikan budidaya mencapai  1, 2 juta ton. Yang menggembirakan adalah  nelayan Pantai Selatan kini, bisa selama dua hari mencari ikan di Pantai Selatan. Ini berbeda dengan kebiasaan nelayan, yang sebelumnya hari bisa sehari mencari ikan di laut.

Menurut Pakde Karwo–sapaan akrab Gubernur Jatim– sekitar  200 ribu ton ikan diekspor ke luar negeri senilai  Rp 16 triliun.

“Padahal poteni ekspor ikan asal Jatim sekitar  Rp 51 triliun. Namun demikian, sekarang ini masih kecil,” cetusnya. 

Oleh sebab itu, dibuat program yang sangat orisinil dan menjadi konsep Jatim untuk mendongkrak potensi ekspor ikan. Yakni, program hulu-hilir.  Misalnya,  ikan lele dan patin diolah dan dijadikan abon dan krispi.

“Permintaan pasar akan abon ikan lele dan abon ikan lainnya itu sangat tinggi. Kondisi ini akan meningkatkan nilai tambah bagi nelayan dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Pengembangan abon sangat maju di  Blitar dan Tulungagung sangat maju untuk pengolahan abon ikan ini. Bahkan nilai tambahnya meningkat 40 persen dibandingkan ikan lele segar diangkut dengan mobil dan dijual di pasaran,” ungkap Pakde Karwo.

Untuk menggairahkan nelayan UMKM di bidang perikanan dan kelautan, akan diberikan pinjaman kredit dengan suku bunga 6 persen di bawah perbankan. Inovasi produk ikan sangat diminati pasar internasional.

“Melalui acara ini diharapkan agar masyarakat lebih tahu ragam produk perikanan, sehingga dapat lebih menerima ikan sebagai komoditas pangan yang sehat dan bernilai tambah,” katanya.(TH)

Bagikan berita ini
9 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *