Jika Subsidi Elpiji 3 Kg Dicabut dan Dibatasi Pembeliannya, Siapa Yang Diuntungkan?

Bagikan Berita Ini:

Surabaya – Rencana pencabutan subsidi elpiji 3 kilo gram oleh pemerintah makin membuat pusing masyarakat miskin dan pedagang kecil (UMKM).

Cak No (50 th), pedagang soto di kawasan kampus UNESA Surabaya mengakui akan terbebani dengan rencana pemerintah itu. Sebab Ia butuh gas melon 3 kg 3 tabung per 2 harinya. Dalam seminggu dirinya butuh total 9 tabung gas. Bila pembeliannya dibatasi, praktis Ia akan terpukul oleh kenaikan harganya.

Saat ini, harga gas elpiji melon yang Ia beli ada dikisaran Rp 18-20 ribu per tabung. Bisa membengkak jadi Rp 37-40 ribu per tabung jika tanpa subsidi.

“Repot Mas kalau dibatasi gitu. Kalau nggak cukup nanti ya nggak bisa jualan. Kalau rame sih nggak apa apa. Masalahnya kita ini kan nggak selalu ramai,” ucap Cak No, Kamis (23/1/2020).

Lain lagi dengan Mbak Al, penjual nasi di Wonoayu, Sidoarjo itu merasa keberatan dengan perubahan tersebut. Dirinya pesimis pemerintah bakal memperhatikan rakyat kecil sepertinya. Kebijakan itu kika diberlakukan, ongkos penjualannya bisa membengkak karena per minggunya Ia menghabiskan minimal 7 tabung.

Menurutnya tak mungkin menaikkan harga sebab pelanggan pasti tak akan beli. Seharusnya ada pembedaan antara kebutuhan gad rumah tangga dan pedagang kecil seperti dirinya. “Saya cuma bisa pasrah. Susah menaikkan harga dagangan. Bisa dijauhi pelanggan nanti,” tuturnya.

Kekwatiran para pedagang kecil itu tak salah memang. Dulu ketika konversi minyak tanah ke gas elpiji di 2004 silam, distribusi lewat kartu Kendal sempat tidak jalan sampai akhirnya siapa pun bebas membeli. Tak peduli kaya atau miskin.

Kini, bila pemerintah lengah lagi, kebijakan baru tentang tabung gas elpiji 3kg nantinya malah membawa celaka. Harganya me-lambung, inflasi pun meninggi dan daya beli rakyat akhirnya jatuh. (git/hans)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *