Pemerintah AS Dan Provinsi Jawa Timur Rayakan Empat Tahun Kaloborasi Peningkatan Ketangguhan Masyarakat Terhadap Dampak Iklim

Bagikan Berita Ini:

Surabaya, 21 Januari 2019 – Pagi ini, di Hotel Bumi Surabaya, USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) secara resmi mengakhiri perjalanannya di Provinsi Jawa Timur.

USAID melalui program APIK telah memberikan bantuan teknis untuk menanggapi kebutuhan Jawa Timur, khususnya tujuh kabupaten/kota di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas; Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang, Blitar, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang.

“Amerika Serikat dan Indonesia menghadapi tantangan serupa terkait cuaca seperti banjir, kebakaran hutan, dan longsor. Kami mengakui perlunya mengambil langkah proaktif untuk mencegah dan beradaptasi terhadap ancaman-ancaman tersebut dan dampaknya.

Kami gembira bahwa kerja sama kami dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sektor swasta, dan masyarakat sipil melalui program-program Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) telah memberdayakan kemandirian dan ketangguhan ekonomi dari 18.000 anggota masyarakat dan akan memastikan kesejahteraan inklusif di kawasan ini dn Indonesia dalam jangka panjang,” ungkap Mark McGovern, Consul General AS di Surabaya saat membuka acara. Jawa Timur memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan berada di posisi kedua setelah Jakarta dalam hal stabilitas ekonomi makro.

Walaupun begitu, provinsi ini mengalami berbagai risiko iklim dan cuaca seperti banjir, longsor, dan erosi pantai. Menanggapi fenomena ini, sejak tahun 2016, USAID APIK bermitra dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, lembaga penelitian, sektor swasta dan anggota masyarakat untuk meningkatkan ketangguhan terhadap risiko terkait iklim maupun bencana alam seperti banjir, tanah longsor, erosi pantai, dan kondisi cuaca ekstrem. Peningkatan ketangguhan masyarakat terhadap dampak iklim dan bencana dimulai dengan kajian kerentanan untuk memetakan risiko iklim dan menentukan rencana aksi adaptasi perubahan iklim di 17 desa.

USAID APIK juga telah mendukung terbentuknya rencana kontinjensi (renkon) untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi banjir bandang di Mojokerto.

Dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi cuaca dan iklim, USAID APIK bekerja sama dengan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), USAID APIK mengadakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk petani tebu di Desa Wonokerto, Kabupaten Malang yang mengintegrasikan penggunaan informasi cuaca dan iklim dalam praktik budi daya.

Perangkat peringatan dini banjir berbasis komunitas juga telah dipasang Desa Kalikatir, Begaganlimo, dan Dilem, di tepi Sungai Klorak, Mojokerto. USAID APIK juga secara berkala melakukan pelatihan bagi staf Organisasi Pemerintah Daerah serta pelaku usaha.

Sementara itu, Di Desa Ngrejo, Kabupaten Blitar, APIK bermitra dengan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) dalam mengembangkan kandang percontohan ayam petelur yang memenuhi aspek sirkulasi udara, kebersihan, sanitasi kandang, dan adaptif terhadap perubahan cuaca serta iklim.

APIK juga berkolaborasi dengan Yayasan Sahabat Multi Bintang (YSMB) untuk meningkatkan pariwisata berbasis konservasi dan pengurangan risiko bencana di Desa Claket, Padusan, Kemiri dan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Turut hadir perwakilan berbagai institusi; Paul Jeffery sebagai Chief of Party Program USAID APIK, Ruandha Agung Sugadirman sebagai Direktur Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Dyah Susilowati Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur.

Di tingkat masyarakat desa, forum adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana telah terbentuk sebagai wadah masyarakat berbagi dan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan.

Untuk menyempurnakan upaya ini, beberapa peraturan telah berhasil diadvokasi mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga tingkat desa. Setelah empat tahun kemitraan, USAID secara resmi menyelesaikan program APIK pada tahun 2020.

Kolaborasi ini telah berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas; lebih dari 8.000 orang masyarakat dan 334 staf pemerintah daerah yang kini lebih siap untuk adaptasi iklim dan pengurangan risiko bencana.

Pemerintah daerah juga telah berkomitmen dalam mendukung rencana aksi ketangguhan, dengan total investasi lebih dari 8 milyar rupiah.

USAID akan terus berkolaborasi dengan beragam mitra di Indonesia dalam mendukung pemerintah siapkan masyarakat yang berketangguhan.(TH)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *