Ratusan Warga Dusun Bangsri kecamatan Sukodono Sidoarjo Ketipu Tanah Kavling Bodong

Bagikan Berita Ini:

Sidoarjo- Setiap orang mengidamkan hunian yang layak, namun ada baiknya hati-hati saat membeli tanah kavling. Pasalnya, akhir-akhir ini marak penipuan bermodus penjualan tanah kavlingan.

Syahid and Partners bersama Agus Syahid Mabruri SH, yang beralamat di Intiland Tower Suites Level 3 Jalan Panglima Sudirman Surabaya. Menjadi Kuasa Hukum para korban kasus penggelapan dari PT. Kejora Alam Asri (KAA) Surabaya, PT. Kejora Sejahtera Bersama (KSB) dan PT. Ganesha Jaya Abadi (GJA).

Dengan total kerugian senilai Rp. 8 Miliar.  Penasihat Hukum Agus Syqhid Mabruri S.H mengatakan, kami mendapat amanah daripada para korban yang menamakan dirinya adalah pembeli kavling tanah di dusun Bangsri kecamatan Sukodono Sidoarjo.

” Mereka adalah user-user yang merasa oleh PT Kejora Alam Asri dan PT Ganesha Jaya Abadi yang mana mereka semua membeli kavling tanah yang kisaran harga 70 sampai 80 juta kavling,” tuturnya. Minggu (12/01/2020)

Masih dengan Agus, ini ternyata sudah dibayar lunas tapi ternyata tidak merealisasikan tanahnya tidak memberikan hak-hak ya setelah kita telusuri ternyata tanah-tanah yang ada di daerah Bangsri itu masih belum realisasi di sana.

” Dari permasalahan ini kami selaku kuasa hukumnya kami sudah melakukan upaya- diantaranya adalah upaya pelaporan pidana penipuan dan penggelapan di Polres Sidoarjo. Tapi ternyata hingga saat masih belum maksimal penanganan perkaranya,” ungkapnya.

Lanjut Agus, setelah ini kami bukan hanya  hanya melaporkan perkara itu, tapi kami pindahkan dengan melakukan gugatan melalui Pengadilan Negeri Sidoarjo.

Hari ini para korban pemberi kuasa dari  penjualan tanah kavling di daerah Bangsri ini menuntut hak-haknya.  ” Intinya hari ini adalah menyemangati konsolidasi untuk mereka.

Sebenarnya hari mereka mengajak untuk datang ke ke Polres Sidoarjo. Kami masih mempercayai proses penegakan hukum pidana di Polres Sidoarjo. 

Alhamdulillah, para user menyadari bahwa kita serahkan ke proses hukum. Harapan  mereka semua proses ini bisa berjalan maksimal bisa memberikan keadilan bagi mereka,” pungkasnya.

Salah satu korban Tri menjelaskan,  kami membeli tanah kavling di tahun 2017 dan dijanjikan akan dilakukan pengerukan di tahun 2018. Ternyata hal itu tidak terjadi seperti yang dijanjikan, akhirnya kita membentuk paguyuban koordinator kami berempat terus kita meminta hak kami kembali.

Dimohon kepolisian mengusut tuntas kasus ini,” ungkapnya Semua  Informasi yang disampaikan tital korban lebih daripada 130 orang. Untuk ditangani Syahid and Partners sejumlah 59 orang dan setiap orang ada yang mengambil 2 kavling.

Dan diberi tanda terima dan ada yang diberi perjanjian jual beli, termasuk juga diberi tanda kuitansi pembayaran lunas. Semua dibawah tangan. Dengan sepengetahuan notaris dibulan Agustus tahun 2019.

Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan Kepolisian terus memerangi kasus mafia tanah yang terjadi di Indonesia. Baru-baru ini, bahkan terungkap modus-modus yang selalu dipakai mafia tanah untuk menipu korban.

Dikutip dari okezone.com Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto mengatakan, biasanya para mafia tanah ini bekerja secara berkelompok dengan modus yang diawali oleh jual beli properti.

Beberapa kasus mafia tanah ini bahkan selalu memakai modus yang serupa. Modusnya hampir sama diawali dengan jual beli properti yang dilakukan oleh penjual dan pembeli yang bertemu untuk melakukan transaksi.

Setelah itu lanjut Ario, biasa para mafia tanah ini akan berpura-pura untuk membeli lahan dengan dalih ingin membangun proyek properti atau sebagainya. Untuk meyakinkan, para mafia tanah ini sering menyewa kantor fiktif.

Diawali dengan peran pembeli abal-abal yang seolah membeli aset properti dengan nilai yang disepakati. Kemudian terjadi transaksi, dan untuk meyakinkan diberikan DP (uang muka),” jelasnya.

Untuk lebih meyakinkan lagi, biasanya para mafia tanah ini menunjuk kantor notaris. Namun sang korban biasanya tidak tahu jika kantor notaris yang ditunjuk merupakan rekanan dan jaringan dari sang penipu.

Kemudian ditentukan di tempat yang juga memberikan keyakinan untuk si penjual yaitu di kantor notaris yang fiktif atau abal-abal. Tentunya dengan didesain sedemikian rupa, dengan plang notaris, kemudian juga dengan staf kenotarisan yang juga tentunya juga figur-figur yang diciptakan sedemikian rupa sehingga meyakinkan si penjual,” jelasnya.(TH)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *