Ndalem Mangkubumen : 70 Tahun Gerilya Jendral Soedirman

Bagikan Berita Ini:

Lensa Nasional, Jogyakarta. Dalam setiap pelajaran Sejarah, sudah dipastikan guru sejarah selalu berujar, dan selalu diingat oleh muridnya.

Bahwa bangsa yang besar selalu tahu akan sejarah bangsanya. Perjuangan Bangsa Indonesiapun tak terlepas dari peran aktif Jenderal Soedirman dalam banyak peristiwa bersejarah.

Acara Diskusi Sejarah Interaktif 70 Gerilya Jenderal Soedirman Akan Dilaksanakan Di Ndalem Mangkubumen, Kraton Yogyakarta pada Hari Rabu, 10 Juli 2019, Pukul 15.00 WIB “Acara ini terbuka untuk masyarakat luas, dan gratis, ” ujar Sigit Sugito, Senin (8/7) kepada Lensa Nasional di Yogyakarta.

Seperti diketahui, Tanggal 24 Januari 2019 merupakan peringatan hari lahir yang ke 103, seorang tokoh pejuang bangsa yang mahsyur di bumi pertiwi. Dialah Panglima Besar Jenderal Soedirman, pejuang kemerdekaan yang dikenal dengan strategi perang gerilya melawan penjajah Belanda.

Meski pahlawan nasional yang sederhana dan bersahaja ini meninggal pada usia yang masih muda yakni 34 tahun, namun patriotisme dan perjuangan akan tetap dikenal sepanjang masa.

Jenderal Besar Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi.

Saat usianya masih 31 tahun Soedirman sudah menjadi seorang Jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, beliau tetap bergerilya melawan Belanda.

I Beliau berlatar belakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan. Ketika pendudukan Jepang, Soedirman masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor, setelah tamat pendidikan langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya.

Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).

Beliau merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak peduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya.

Beliau tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini, dan terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden.

Beliau memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Soedirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya.

Beliau selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.

Ketika Agresi Militer II Belanda pada 19 Desember 1948. Beliau yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad terjun memimpin perang gerilya walaupun harus ditandu.

Dalam keadaan sakit, beliau memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Itulah sebabnya kenapa beliau disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini. Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng.

Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Soedirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa.

Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai.

Jenderal Soedirman yang saat itu berada di Yogyyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda.

Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan.

Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya.

Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada.

Tapi kepada pasukannya beliau selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya.

Namun akhirnya Soedirman harus pulang dari medan gerilya, beliau tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Soedirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.

Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Pada tanggal 29 Januari 1950, Panglima Besar Soedirman meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.

Beliau dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Kita mustinya tertarik pada acara tersebut. Silahkan menghubungi Sigit Sugito. Kontak 081931791185. Untuk pesan tempat, dan dijamin gratis. (cakbonang)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *