Puasa Adalah Jalan Lapar. Jalan Menuju Kebaikan

Bagikan Berita Ini:

Lensa nasional.co.id – Banyak kajian tentang hikmah puasa. Namun hikmah terpenting dari puasa adalah mempraktekkan jalan lapar itu dalam kehidupan. Sebagai jalan lapar, puasa bukan sekedar berpindah jadwal makan.

Puasa sebagaimana ibadah lain dalam Islam, tak bisa dipisahkan dari dimensi simbolik dan filosofis. Kehilangan satu dari dua dimensi itu akan menyebabkan ketimpangan. Tanpa simbol, eksistensi dan identitas suatu ibadah sulit diukur. Sebaliknya, tanpa filosofi, ibadah bagai kulit tanpa isi.

Begitu pula dengan orang yang menjalankan sholat secara simbolik. Jika sholatnya tak membawa implikasi kebaikan pada diri dan lingkungan maka akan dikelompokkan pada manusia celaka.

Berpuasa bukan sekedar tak makan dan tak minum. Puasa sarat dengan filosofi. Puasa adalah gerakan menahan nafsu. Nafsu kenyang dan nafsu serakah.

Kesuksesan puasa tak sekadar diukur sejauh mana mampu menahan makan dan minum dari subuh sampai maghrib. Dibalik itu, puasa adalah jalan kebaikan.

Jika telah mampu menahan lapar maka seharusnya juga mampu menahan rasa kenyang dalam kehidupan. Seperti serakah terhadap harta benda. Hampir semua sepakat korupsi dilakukan bukan karena pelakunya tak bisa makan.

Para tersangka koruptor adalah orang kaya. Malah sangat kaya. Namun mengapa masih menumpuk harta tidak halal? Jawabnya karena orang itu gagal dalam jalan lapar. Gagal mempraktekkan puasa formalnya dalam kehidupan. Ia selalu ingin kenyang. Ada nafsu serakah membuncah. Nafsu yang belum bisa dikendalikan sebagaimana dikendalikannya lapar dahaga dalam puasa.

Korupsi adalah soal kesempatan. Kita yang berteriak teriak anti korupsi mungkin belum memperoleh kesempatan. Nah, puasa adalah ujian tentang kesempatan itu.

Dalam terminologi Islam, batas disebut syari’at. Ada halal ada haram. Ada yang boleh dan ada yang tidak boleh. Tanpa batas tersebut, tatanan masyarakat akan kacau. Manusia bisa seenak hatinya.

Bayangkan jika seseorang boleh mengawini siapa saja tanpa batasan. Maka bukan saja seorang lelaki akan mengawini sesama lelaki. Atau, wanita dengan wanita. Lebih jauh lagi, Ia mungkin akan mengawini makhluk species lain. Sungguh mengerikan.

Nah, menjaga batas itulah yang diajarkan oleh puasa sebagai jalan lapar. Jalan menuju kebaikan.

Selamat menjalankan ibadah puasa. (git hans)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *