Nonton Wayang Kulit Acara Ruwat Desa Grabagan, Tulangan. Siapa Sangka Penabuh Kendangnya Tuna Netra

Nonton Wayang Kulit Acara Ruwat Desa Grabagan, Tulangan. Siapa Sangka Penabuh Kendangnya Tuna Netra

Sidoarjo – Meski sempat tertunda sejenak akibat derasnya hujan yang turun, Pertunjukan wayang kulit dalam rangka ruwatan desa Grabagan Kecamatan Tulangan tetap berjalan (30/04/2019).

Menampilkan lakon cerita Wahyu Tunggal, gelaran kesenian budaya tersebut ternyata menyimpan keunikan tersendiri.

Betapa tidak. Salah satu punggawa nayaga atau penabuh kendangnya memiliki kekurangan dalam penglihatan alias penyandang tuna netra.

Namun hal itu bagi Kethut (60), sang penabuh kendang, tidak mengurangi kepiawaiannya dalam memainkan alat kendang pada pertunjukan malam tersebut.

Berbagai langgam Jawa yang dinyanyikan keempat penari remo mampu Ia iringi. Kedua tangannya bergerak lincah menabuh. Rancak dan terkadang menghentak.

Malam yang dingin seusai hujan itu pun terasa menghangat saja ketika menyaksikan suguhan tarian dari keempat penari karawitan Madyo Laras. Lugas tegas layaknya tarian khas Jawa Timuran. Tari Remo.

Sementara itu, Purnomo Kepala Desa Grabagan menjelaskan bahwa ruwatan desa dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian tradisi budaya peninggalan nenek moyang.

“Hal ini kami lakukan tak lain wujud kami dalam menguri-uri budaya Jawi. Budaya warisan leluhur dan para pendiri desa. Ditengah era modern yang membawa pula budaya asing, acara ruwat desa semacam ini hadir sebagai pengingat kepada generasi penerus bahwa kita mempunyai budaya yang lebih tinggi. Sarat akan nilai luhur yang justru dikagumi bangsa luar,” terang Purnomo.

Acara tradisi budaya pada malam itu juga dihadiri oleh Camat Tulangan serta jajaran penegak hukum dan ketertiban Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo. (git)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *