Majelis Cendikiawan Keraton Nusantara Surabaya Gelar Sarasehan Nasional Budaya

Majelis Cendikiawan Keraton Nusantara Surabaya Gelar Sarasehan Nasional Budaya

Surabaya – Majelis Cendikiawan Keraton Nusantara (MCKN) mengelar pelantikan dan Sarasehan Nasional Budaya dengan Tema Menguak Kekayaan Kerajaan Di Nusantara di Hotel ELMI Surabaya, Sabtu (19/1).Pagi.

Ketua MKCN Kota Surabaya, Ir. Bambang Sigit Sucahyo MP, mengatakan pada hari ini adalah penobatan pengurus MCKN Kota Surabaya oleh Ketua Yayasan Raja dan Sultan Nusantara yaitu Sri Sultan Badar Mahmud Badarudin dari Palembang Darussalam, Pada hari ini kami telah disumpah, kami harus mengikuti semua yang ada didalam Ad/art yaitu tujuan MCKN ini adalah memberdayakan, mengembangkan budaya Kraton-kraton nusantara, serta mempertahankan NKRI, karena pada awalnya dikatakan oleh sultan tadi, memang benar, “Sebelum Kamu ada, Kami ada”, itu artinya bahwa sebelum NKRI ada maka semua kerajaan di Nusantara itu sudah berdiri.

“Sejak beberapa abad yang lalu. Kraton telah bersedia bersama untuk menyatu kedalam NKRI, maka terjadilah Negara persatuan dalam perkembangan lokal dari tahun ketahun, ada terjadi banyak distorsi terhadap budaya, dengan contoh banyak orang tidak tahu tentang budaya nenek moyangnya, maka bangkitlah Raja-Raja itu, bersatu dari 215 Raja, yang ada di nusantara menyatu menjadi wawasan Raja dan Sultan, dan beliau punya underbouw ibaratnya atau punya kepanjangan tangan kraton di nusantara dan Baranusa (Barisan Raja dan kraton nusantara) ucapnya.

Kemudian didalam sarasehan ini, pembicaranya adalah Sri Sultan sendiri, Hayono Isman, Arzeti Bilbina, dan Sutoyo kebetulan sekretaris kami, beliau adalah seorang ahli giologi dan metalurgi Itali, yang telah melakukan penelitian puluhan tahun terhadap koordinat tanah-tanah yang didalamnya ternyata sangat kaya karena kandungan-kandungan emas, perak, itu ada di seluruh nusantara. Inilah nanti disampaikan, hasil penelitian MCKN Surabaya, dalam hal ini adalah Bapak Sutoyo.

Sementara itu, Sultan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin menyatakan, setelah pelantikan kita lihat segala sumberdaya alam, segala bebatuan, pohon, segala macam, yang bernilai ekonomi yang sangat tinggi, akan tetapi rakyat Indonesia tidak begitu tahu apa yang terkandung didalamnya, malah orang asing di luar Indonesia yang lebih mengetahui kita ada emas yang sangat banyak, kita ada uranium, dan lainnya. Ujarnya.

Dikatakan Iskandar, dulu jaman Bung Karno, mengajak sultan sebagai dewan penasehat Presiden, atau duduk di kabinet, jangan lupakan kami, berikan peluang agar dapat berkiprah dan menasehati para pemimpin negeri ini bahwa kita tidak kehilangan jatidiri, kita adalah Zamrud kahtulistiwa, sehingga orang lain iri dengan apa yang ada di Indonesia ini Jadi aspek kebudayaan yang sangat prihatin 60 persen dari adat budaya, pelaku, pelestari budaya yang ada di Indonesia ini sudah mengalami degradasi kepunahan, coba mereka membaca Al Qur’an surat 25, ayat 30, Al Furqon, Rosululloh bersabda, ya Alloh Ya Rob, sesungguhnya kaummku nanti akan mengabaikan, meng-acuhkan Al Qur’an, dan perlu dimasukkan didalam media ini, apakah mereka itu setiap hari membaca Alqur’an, tidak, tapi membaca W-A, ia, ini sudah degradasi, Rosululloh sedih. Ucapnya.

Ditambahkan Iskandar, saya melihat bahwa generasi muda ini kecintaannya terhadap Negara berkurang, jiwa, wawasan, kecintaannya membela Negara sangat kurang, kegotong royongannya jauh, kesetiakawanannya apalagi, kelompok-kelompok tertentu , wawasan kebangsaan hankamrata di poles, tidak seperti dulu lagi, makanya kita harapkan generasi pemuda-pemuda sekarang ini kita harapkan menjadi mercu suar, Indonesia menjadi Negara pencipta, bukan pengguna, kita ada disini, manganese, ferum, besi, nikel, emas, akan tetapi yang menciptakan HP, orang lain, menciptakan mobil orang lain, semua orang lain, kita bangsa pengguna bukan pencipta, mari kita jadi yang mencipta.(TH)

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *