Joko Setyanggono, Kades Wonoplintahan: “Doa dan Makan Bersama di Punden Ini Bentuk Penghormatan Pada Cikal Bakal Desa”

Sidoarjo – Bagi masyarakat pedesaan di Jawa, punden memiliki makna tersendiri. Identik dengan tempat petilasan atau tetenger dari seorang tokoh jaman lampau yang bisa berupa makam atau batu besar yang diyakini dulu pernah menjadi persemayaman sang tokoh.

Dalam bahasa keseharian, tokoh yang dimaksud merupakan orang pertama yang dianggap membuka lahan yang dulu berupa hutan menjadi sebuah kawasan pemukiman desa atau pedukuhan.

Begitu besar jasa seorang punden desa hingga ketokohannya tetap berusaha diingat dan diteruskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Berbagai bentuk ungkapan rasa hormat kepadanya (punden) dilakukan, terlebih saat seperti ini, bulan Ruwah, selalu tak lupa untuk menggelar ruwatan desa. Mulai dari doa dan kenduri tumpeng di tempat punden, pertunjukan wayang kulit, ludruk hingga kirab tumpeng.

Sebagaimana dijumpai di desa Wonoplintahan, Kecamatan Prambon, Sidoarjo pada Selasa (01/05/18) pagi. Ratusan masyarakat dukuh Jantran, Wonoplintahan berbondong bondong datang ke tempat punden Mbah Kaji sambil membawa aneka makanan. Kegiatan yang lazim dilakukan pada bulan Ruwah itu dipimpin langsung oleh Joko Setyanggono, Kades Wonoplintahan.

Dalam sambutan singkatnya, Joko menyampaikan beberapa petuah menarik. “Kegiatan semacam ini selayaknya harus tetap dilestarikan sebab hal ini sebagai pengingat bahwa tanpa jasa para leluhur sebagai cikal bakal pembuka desa, kita tak akan pernah tinggal di pedukuhan ini. Selain itu, hal ini juga untuk pengingat bahwa segala kehidupan ada yang menciptakan. Senantiasa ingat kepada Tuhan, selalu menjaga sikap dan kepribadian masing madinh agar berhati hari didalam segala hal, itu yang lebih utama,” tutur Joko Setyanggono.

Diharapkan juga, lanjut Joko, “Dengan adanya kegiatan ini akan tercipta kerukunan dan saling guyub antar sesama warga Jantran. Sekali lagi, mari tetap kita lestarikan sehingga ke depan riwayat dan sejarah dukuh Jantran khususnya desa Wonoplintahan akan tetap terjaga dan selalu diingat sampai ke generasi berikutnya,” ucapnya

Acara tradisi budaya tersebut selain diikuti oleh ratusan warga Jantran juga dihadiri oleh tokoh masyarakat, ketua BPD,perwakilan Koramil dan Kecamatan Prambon. Selain di Pejantran, pada hari itu pula digelar serentak kegiatan serupa di punden Dlopo Wetan, Wonogiri dan di balai desa Wonoplintahan. (git)

Bagikan berita ini
15 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *