Harmoni Budaya Janda Menyatukan Bangsa Indonesia

Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar acara ‘Harmoni budaya Jawa Sunda (Janda)” di Hotel Bumi Surabaya, Selasa (6/3/2018) pagi.

Nampak dalam acara tersebut di hadiri oleh Gubernur Jawa Timur, H. Soekarwo, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, serta para undangan dari pejabat TNI Polri dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Dalam acara tersebut hadir kurang lebih 300 tamu undangan.

Momen pagelaran acara ini,mengusung semangat rekonsiliasi budaya antara masyarakat Jawa dan Sunda.

Ketika persatuan dan kesatuan mulai terkoyak,  politik mulai kotor, nampaknya seni dan budaya yang bisa menyatukannya. Terbukti, dua budaya Sunda dan Jawa bisa menyatu, membentuk sebuah harmoni cinta dari alunan musik gendang, rebana dan seruling.

Tiga kepala daerah pun terpukau. Mereka adalah Gubernur Jawa Barat, Ahmad Haryawan, Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.

Begitupun beberapa Bupati dan Walikota juga terpukau. Bahkan para budayawan, akademisi juga terpana. Mereka hadir dalam acara Harmoni Budaya Sunda Jawa  2018 di Hotel Bumi Surabaya, Selasa (6/3).Penyatuan dua budaya ini bukan sekadar seremonial. Karena keduanya pernah terjadikonflik sejak terjadinya Perang Bubat  pada 1279 Saka atau 1357 Masehi. Perang Bubatterjadi saat pemerintahan Raja Majapahit Hayam Wuruk.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Haryawan (Aher)  mengapresiasi adanya inisiasi penyatuan dua budaya Sunda dan Jawa ini. Sehingga  perselisihan di zaman kerajaan dahulu kala bisa disatukan kembali.

“Mengapa orang Sunda walaupun tinggal di Pulau Jawa tidak mau disebut orang Jawa, mungkin karena adanya perang Bubat Pasundan itu,” katanya disambut tawa dan tepuk tangan undangan yang hadir.

Aher menyadari sejarah masa lalu dua kerjasaan di Jawa Timur dan Jawa Barat itu untungnya tidak terjadi di masa di mana teknologi sudah canggih. Sehingga rekam jejak itu tidak terekam secara nyata.

“Sehingga kisah itu terkesan subyektif. Jawa Timur dengan subyektivitasnya dan Jawa Barat dengan subyektivitasnya. Sekarang tugas akademisi dan para ahli untuk menyatukan dua subyektivitas itu menjadi aebuah obyektivitas,” jelas Aher.

Bersatunya Pakde Karwo dan Aher tidak hanya menyatukan dua budaya tapi juga untuk melebur masa lalu. Itu ditandai dengan diperkenalkannya dua jalan di Surabaya  yakni  sebagian Jalan Gunung Sari menjadi Jalan Prabu Siliwangi dan sebagiam Jalan  Dinoyo menjadi Jalan Sunda. 

Sementara di Jawa Barat akan ada Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk.“Karena perselisihan itu akhirnya sampai saat ini masih belum ada nama Jalan di Jawa Barat yang diberinama tokoh KerajaanMajapahit. Sekarang saatnya untuk melebur,” tandas Aher.

“Peresmian pergantian nama jalan ini ditandai bunyi sirine dan disaksikan para peserta undangan yang hadir menyaksikan momen bersejarah ini,” tutup Gubernur Jawa Timur.(TH)

Bagikan berita ini
122 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *