Segodobancang, Tarik Gelar Wayang Kulit Tandai Usai Awal Masa Tanam

Segodobancang, Tarik Gelar Wayang Kulit Tandai Usai Awal Masa Tanam

Lensanasional.co.id – Perkembangan pembangunan yang ditandai dengan maraknya pusat tempat hiburan dan mall plus seiring makin pesatnya tingkat pertumbuhan pemukiman baru, menjadikan Sidoarjo tak lagi sekedar kabupaten “ndeso”. Sebagai daerah penyangga kota Surabaya mau tak mau membuat Sidoarjo ikut terdampak. Baik dari sisi penampilan maupun gaya hidup yang modern khas kota besar.

Namun dibalik wajah modern tadi, Sidoarjo ternyata masih banyak menyimpan wajah tempo doeloe. Dalam arti nilai tradisi dan budaya tetap terjaga lestari.

Salah satu tradisi itu terlihat di Desa Segodobancang Kecamatan Tarik. Pertunjukan wayang kulit dan seni campursari digelar oleh pemerintah desa sebagai momen pertanda usai masa awal tanam padi atau “keleman”.

Ditemui dilokasi pertunjukan, Slamet Riyono, Kades Segodobancang menjelaskan bahwa pagelaran kesenian lokal sengaja digelar untuk merayakan usainya awal masa tanam padi di desa yang dipimpinnya.

“Memang benar. Hal ini sengaja kami lakukan selain memberikan hiburan pada warga atas usainya awal masa tanam juga untuk tetap menjaga tradisi tetap langgeng dan juga sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan pada para leluhur yang telah mewariskan tradisi seperti ini,”tutur Slamet Riyono kepada Lensanasional.co.id, Minggu (3/2/2019).

Selain itu, tambah Slamet dengan adanya pertunjukan kesenian tersebut diharapkan dapat terus mempererat rasa guyub gotong rotong diantara masyarakat Segodobancang. “Harapan kami demikian. Warga makin guyub dan bersatu,” ujar Slamet.

Malam itu, pagelaran wayang kulit di Desa Segodobancang menghadirkan Ki Dalang Wahyu Sri Upoyono dari Trowulan Mojokerto dengan lakon Temurune Wahyu Keprabon. (sigit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *