SECANGKIR KOPI REDAKSI : Ketika Islam Sangat Arif Memaknai Tradisi Budaya Negeri

SECANGKIR KOPI REDAKSI : Ketika Islam Sangat Arif Memaknai Tradisi Budaya Negeri

Oleh : Sigit Hans Wakil Pemimpin Redaksi

Belakangan ini fenomena ujaran kebencian, kabar dusta dan propaganda tak pernah henti dijejalkan ke akal sehat masyarakat. Terlebih pada masyarakat muslim Indonesia yang seolah telah terbagi dalam kelompok pro Jokowi dan pro Prabowo.

Perbedaan pilihan politik di tahun politik ini telah menjadi poros dalam pusaran kebhinnekaan kita. Aliran aliran dalam kelompok masyarakat muslim Indonesia misalnya, kini tampaknya tak lagi dicirikan dengan Sunni dan Syi’ah atau 73 aliran sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Tudingan bid’ah atau mengamalkan sesuatu yang tidak diajarkan Nabi Muhammad saw acapkali terdengar.

Bahkan terjadi tudingan musyrik pada berbagai upacara adat seperti sedekah laut oleh nelayan atau sedekah bumi oleh petani. Padahal tradisi adat tersebut telah lama bisa berdampingan dengan agama. Namun kini seperti diusir dari kampung halamannya sendiri.

Simpati dan empati tampak bagai sepasang sayap patah di negeri yang terkenal toleran ini. Padahal pula, sejak awal dakwah Islam di Nusantara dilakukan tanpa memberangus tradisi tapi justru merangkul dan menjadikannya sebagai sarana pengembangan Islam

Bukti arsitektur Masjid Demak yang dibangun Wali Songo misalnya, menjadi petunjuk penting dialektika pertemuan antara agama dan budaya. Mempertahankan gaya atap berlapis maka dibangunlah atap berlapis tiga sebagai simbol tiga tahap dalam Islam yakni, Iman, Islam dan Ihsan. Hal itu mengukuhkan betapa agama dan budaya bisa bersanding dengan dalam kesatuan yang indah.

Bukan itu saja. Para Sunan berhasil membumikan ajaran langitan Islam sesuai dengan ruang dan waktu atau al islamu shalihun li kulli zaman wa al makan.

Begitu pun, demi mengajak minat masyarakat berikrar Syahadattain, Sunan mengadakan tradisi Sekaten yang mentradisi hingga sekarang di Yogyakarta. Bahkan yang mulanya tontonan diolah menjadi tuntunan. Menjadi kisah yang tak habis diceritakan yang akhirnya menjadi pedoman seperti kisah wayang kulit. Dimana disitu kita dapatkan pelajaran banyak nan adiluhung didalamnya.

Pun, dari batik yang merupakan perlambang huruf ba’ dititik. Sunan pelan penuh ketekunan mengajarkan bahrul qudra dan nilai nilai tasawuf dalam kehidupan.

Oleh sebab itu, alangkah lebih baik bila masyarakat muslim di negeri ini lebih memfokuskan diri pada ikhtiar menjaga persatuan kesatuan bangsa. Tanpa saling menghujat dan membenci sesama muslim.

Akan lebih mulia rasanya jika menggunakan agama bukan untuk syahwat politik tetapi lebih pada semangat membangun peradaban Indonesia terlepas dari apapun alirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *