Ketika Boss Media Mengaku Pendiri Partai Politik

Lensanasional.co.id – Gonjang ganjing ditubuh Partai Amanat Nasional (PAN) yang meminta Amien Rais (AR) mundur dari partai berlambang matahari terbit atas desakan segelintir orang yang memgklaim sebagai pendiri PAN banyak membuat heran banyak orang. Keheranan itu terlebih dengan melihat kapasitas para pendesak mundur Amien Rais yakni Goenawan Mohammad dkk. Dimana selama ini boleh dibilang tidak berkontribusi apapun terhadap PAN yang sejauh ini pula publik jarang mendengar kiprah mereka di PAN.

Terlebih Goenawan Mohammad (GM), sang boss Majalah TEMPO. Ia begitu gencar menyuarakan desakan agar Amien Rais mundur dengan alasan terlalu kencang mengkritik kinerja pemerintahan Jokowi yang dianggap akan melemahkan PAN.

Keheranan yang akhirnya memunculkan pertanyaan terhadap sepak terjang GM dikalangan insan pers terutama pada 2017 lalu saat GM mengobok obok Jawa Pos (JP) dan menempatkan anaknya, Hidayat Jati di posisi puncak setelah mendongkel Azrul Ananda, anak Dahlan Iskan pendiri Jawa Pos.

Jawa Pos memang anak TEMPO.yang saham utamanya dimiliki Ciputra dan Dahlan Iskan adalah anak buah GM karena Jawa Pos group TEMPO. Namun peran GM dalam membesarkan Jawa Pos bisa dibilang nol. Artinya tanpa peran GM pun Jawa Pos tetap besar ditangan Dahlan Iskan dan menggurita dengan berbagai jaringan media radarnya se Indonesia

Upaya mengobok obok dan menyetir Jawa Pos sudah terasa sejak Pilgub DKI 2017. GM tak segan turun tangan mencampuri urusan redaksi, jika berita Jawa Pos menyerang Ahok.

Dahlan Iskan pun dianggap berbahaya karena pernah berambisi politik. Ia dihabisi, dikriminalisasi dan sahamnya dipreteli. Jawa Pos mungkin bisa dikuasai, tetapi perlawanan yang dilakukan awak media Jawa Pos group terhadap GM sangat cantik dan mematikan.

Dahlan Iskan dkk di Jawa Pos terlalu cerdik untuk ditundukkan begitu saja. Sebagian besar group Jawa Pos di daerah kini melepaskan diri sejak GM mengambil alih Jawa Pos.

Semisal Kelompok Fajar Group di Indonesia bagian timur membentuk.group sendiri dengan bendera Fajar Indonesia Network (FIN) dikomandani oleh Alwi Hamu. Sementara di bagian barat, group Jawa Pos yakni Wahana Semesta Merdeka ikut memisahkan diri dan menguasai media dari Sumatera hingga Jabar dibawah kendali Suparno Wonokromo. Bahkan koran Indo Pos di Jakarta juga memerdekakan diri.

Sekarang, publik tinggal melihat bagaimana kelanjutan kiprah operasi GM di tubuh PAN. Apakah berjalan mulus atau justru membentur dinding kokoh PAN yang selama ini dianggap identik dengan Amien Rais, Bapak Reformasi. (Red/dimam abror).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *